Kampung Blok M di Semarang 4

Selasa, 13 Jul '10 01:33

Bukan hanya Jakarta yang mempunyai Blok M, sebuah kawasan bisnis dan perdagangan di Kebayoran Baru. Di Semarang juga terdapat wilayah bernama serupa. Bedanya, Blok M di Kota Lunpia bukan hunian modern melainkan pemukiman dekat rel kereta api. Letaknya di RT 01 RW 11, Kampung Condorejo, Muktiharjo Kidul.

Mengapa diberi nama Blok M? "Sekitar 80% warga berprofesi sebagai tukang mayeng alias pencari rongsok," ujar Simon warga setempat.

Dari istilah mayeng itulah lahir nama Blok M. Sebuah nama  yang sejatinya merupakan olok-olok bahwa mayoritas penghuninya merupakan warga kelas bawah.

Lazimnya hunian tukang rongsok, gunungan barang bekas menjadi pemandangan lumrah. Tapi bukan itu yang membuat keinginan untuk melihat lebih jauh. Di kawasan tersebut, banyak rumah berbentuk panggung. Sedikitnya terdapat 20 rumah sederhana dengan ketinggian sekitar 30 centimeter di atas tanah. Rumah-rumah dari kayu dan bambu itu tak tak didirikan di daratan, melainkan di atas tambak.

Rumah yang lebih tepat disebut gubuk itu memiliki ukuran sekitar 4 x 5 meter. Didirikan secara tak beraturan di atas rawa dan pinggir sungai. Kesan kumuh terlihat dari bentuk dan letak rumah yang tak beraturan.

Blok M Barangkali merupakan ironi bagi kota metropolis seperti Semarang. Meski perkampungan miskin memang ada di semua kota besar, tetap keberadaan mereka tetap saja membuat kita terjeran-heran. Rupanya, di Semarang masih ada hunian seperti ini.  "Selain tukang rongsok, warga berprofesi sebagai tukang parkir, pemulung, pengamen, peminta-minta, dan profesi kelas bawah lainnya,' ujar Sutarmin Ketua RT 02/09.

Pria yang berprofesi sebagai sopir serabutan itu mengatakan Blok M merupakan tanda masih banyak warga yang tidak sejahtera. "Sebagian orang mungkin akan heran, kok di Semarang masih ada gubuk-gubuk semacam ini," ujarnya.

Gubuk-gubuk kumuh di Blok M menjadi mozaik kemiskinan di negeri ini. Meski kita saban hari melihat banyak pengamen, pemulung, dan peminta-minta tetapi tetap saja akan mengelus dada melihat hunian murung ini. "Para pejabat mestinya datang ke sini, menyaksikan secara langsung bagaimana kehidupan di sini,' pinta Sutarmin.

Tidak jelas kepemilikan tanah di kawasan tersebut. Sebagian mengatakan, rumah-rumah itu didirikan secara liar di atas tanah milik Pertamina. Ada juga yang mengaku, tanah yang mereka huni merupakan hibah dari Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS).

Agus Prasetyo salah seorang penghuni rumah panggung mengaku menempati tempat itu sejak 2008. "Dulunya tinggal di Ngemplak Simongan, di gubuk liar juga," ujar pria berputra tiga ini.

Pekerja serabutan ini mengaku tinggal di "gubuk derita" karena terpaksa. "Kalau tidak di sini, di mana lagi?  Mau kontrak, sewa bulanan nya mahal. Kalau di sini kan bisa gratis," ujarnya.

Berlima mereka tinggal di rumah papan sederhana. Selain istrinya, Mutiah, terdapat tiga anak yakni Defani, Arif, dan Rizky. Listrik dipasok dari nyalur tetangga. Sedangkan air bersih dari ngangsu di kampung sebelah.


Tag: opojal-starone-1, blok m, kampung kumuh, condrorejo

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

jatiblack 1 suka | 0
Sungguh ironis memang. Dibalik pesatnya perkembangan Kota Semarang tercinta, ternyata masih ada yang bernasib kurang beruntung seperti saudara-saudara kita di Kampung Blok M itu.......
: (
Numpang Rame 0 0
Ya, begitulah...
nonowaewis 0 0
Kok koyok Blok Mbanjir yo..hehehehehe
aros 0 0
hidup ini sudah di gariskan....

Silahkan login untuk memberikan pendapat